Latest News

Wednesday, March 31, 2021

[Andre V Wenas] Fenomena Terorisme, Harta Karun Cendana, Kisruh Partai Demokrat dan Prahara Grup Aksa-JK

*Fenomena Terorisme, Harta Karun Cendana,* 
*Kisruh Partai Demokrat dan Prahara Grup Aksa-JK*

Oleh: Andre Vincent Wenas
Terorisme mencuat (lagi) menyusul beberapa kasus korupsi yang terbongkar. Juga kasus yang sedang diusut oleh Bareskrim, Kejaksaan, KPK dan bakal ditambah lagi nanti dengan Tim Pemburu Koruptor. 

Perburuan “harta karun” hasil kolusi, korupsi dan penggelapan pajak jaman dulu yang ada di berbagai “yayasan” serta akun bank negara surga pajak kabarnya pun sedang dilakukan intensif oleh kementerian keuangan yang dipimpin ‘the iron lady’ SMI. 

Akun bank di Swiss, Cayman Island, Panama Papers, Paradise Papers dan lain-lainnya itu jangan dipikir telah dilupakan. Dan kita akan sama-sama merawat ingatan publik soal perburuan duit rakyat yang diselewengkan ini.

Kita pun mengenal istilah ‘attacking-dog’ (anjing penggigit), ini adalah pihak yang dipakai oleh para bohir untuk mengggigit lawan-lawannya. Atau untuk sekedar bikin heboh demi pengalihan isu.

Mengamati beberapa peristiwa sejak kepulangan MRS beberapa waktu lalu ada rentetan fenomena sosial politik yang menarik untuk dicermati.

Sejak kepulangannya yang disambut lautan manusia di bandara waktu itu, banyak ulah yang diperbuat MRS dan kelompoknya yang bikin heboh serta melanggar hukum, maka ia lalu ditangkap.

So the attacking-dog had been neutralized. Begitu kata beberapa kawan. Jadi mesti ada anjing-penggigit lain yang bisa dipakai untuk menggigit lawan politik sekaligus untuk mengalihkan isu-isu yang dianggap merugikan kelompok para bohir.

Setelah MRS “dibungkam” di dalam bui, kita pun diberi tontonan proses persidangan yang jadi drama tidak lucu. Soal sidang online versus offline yang jadi komikal, tanpa hakim bisa berkutik. Padahal menurut beberapa ahli hukum di situ jelas ada unsur ‘contempt of court’ (pelecehan proses peradilan). Walahuallam.

Beberapa mozaik peristiwa. Ada fenomena Sadikin Aksa yang jadi tersangka oleh Bereskrim Polri soal PT Bosowa Corporindo dan Bank Bukopin. Ia nota bene adalah keponakan JK. Sebelumnya ada tuntutan (gugatan) dari QNB Bank kepada kelompok usaha Aksa sekitar 70 triliun rupiah. Kasusnya masih berproses katanya. 

Juga ada kasus Asabri dan Jiwasraya yang – katanya – bisa menyeret beberapa tokoh (partai) politik.

Partai Demokrat pun kisruh. Singkat cerita, AHY lalu sowan ke JK. Silaturahmi katanya. Lalu ada kasus terbongkarnya mafia tanah rumah DP 0 rupiah, dan Anies (yang ‘anak-emas’ JK) pun terpojok. Sambil tentunya menyeret-nyeret nama Ketua DPRD DKI Jakarta serta Banggarnya. 

Ada isu bahwa kasus tanah rumah DP 0 rupiah ini sebetulnya sedang diproses oleh Bareskrim Polri, tapi entah kenapa tiba-tiba diambil alih oleh KPK? Semoga saja KPK bisa menuntaskannya sampai ke akar-akarnya. 

Kita lalu juga membaca ada segerombolan teroris yang ditangkap di Makassar (kabarnya terkait dengan FPI), mereka pun digelandang ke Jakarta oleh BNPT. 

Lalu RJ Lino (juga ‘anak-emas’ JK) yang telah 5 tahun jadi tersangka akhirnya ditangkap KPK. Terhadap hal ini JK angkat bicara, bahwa selama lima tahun itu KPK belum bisa menangkap lantaran tidak ada bukti. Hmm…

Agak aneh sebetulnya, karena status penetapan sebagai tersangka (dalam proses penyidikan) KPK semestinya sudah adanya dua alat bukti.

Kasus Richard Joost Lino yang mantan Dirut PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II adalah perkara korupsi dalam pengadaan 3 unit Quay Container Crane (QCC). Ia diduga merugikan negara Rp 50,03 miliar berdasarkan laporan audit investigatif BPKP tahun 2010 Nomor: LHAI-244/D6.02/2011 pada 18 Maret 2011.

Komentar JK tentang ini adalah: "Apanya merugikan negara, sedangkan itu barang sudah berproduksi dan memang diperlukan."

Ya tentu saja sudah berproduksi dan memang diperlukan. Namun yang dipersoalkan oleh audit BPKP nampaknya soal prosedur penunjukan langsung, serta adanya kerugian negara yang mencapai sekitar Rp 50 milyar.

Kerugian negara ini dari mana? Menurut KPK, kejadian yang ‘merugikan negara’ itu tadi mulai dari proses pengadaan termasuk pembangunan dan pengiriman, lalu proses pemeliharaannya.

Kita tahu bahwa dalam ‘rantai pasok’ (supply-chain) proses pengadaan, pembangunan sampai pemeliharaan bisa banyak ‘loop-holes’ yang bisa terjadi praktek ‘mark-up’ akibat penyalahgunaan wewenang.

Ya itu semua masih perlu diungkap tuntas dalam proses pengadilan. Fakta-fakta pengadilan seperti apa yang bakal muncul? Pasti seru juga untuk dicermati.

Lalu baru-baru ini bom meledak di depan Katedral Makassar. Terhadap kejadian ini, Presiden Joko Widodo pun sudah memerintahkan Kapolri untuk melakukan penyelidikan secara tuntas. 

Tak lama kemudian beberapa teroris lainnya pun ditangkap di Bekasi  dan di kawasan Condet, Jakarta. Katanya terkait juga dengan ormas FPI yang sudah dilarang pemerintah itu.

Sekali lagi tak jelas apakah rentetan kejadian itu semua ada korelasinya. Korelasi dalam ilmu statistik memang bukan hubungan sebab-akibat langsung. Tapi sekedar menyandingkan dua atau lebih fenomena untuk diuji ko-relasi-nya. Apakah positif, ataukah negatif. 

Biarlah proses penyelidikan, penyidikan dan peradilan terhadap itu semua berjalan. Kita sama-sama memantaunya. Sambil mewaspadai juga siasat licik mereka yang memolitisasi agama atau politisasi Pancasila atau juga politisasi Jokowi.

Yang penting juga buat masyarakat banyak, jangan lagi proses pembongkaran berbagai kasus-kasus itu dibarengi dengan penebaran teror lainnya. Polri dan TNI, jangan ragu-ragu, sikat saja!
Itu saja.

30/03/2021
Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).
Source : https://www.facebook.com/799489083553140/posts/1732766453558727/ 

Bibitnya harus dihabisi

 Keras, Said Aqil Sebut Dua Aliran Ini Harus Dihabisi dari Indonesia Kalau Mau Berantas Terorisme



Riau24.com

2021/03/30 16:33


Ikuti



Said Aqil Siroj

RIAU24.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menuding aliran wahabi dan salafi sebagai pintu masuk gerakan terorisme di Indonesia. Kedua golongan ini disebutnya paling getol menyalahkan orang yang tidak mengikuti ajarannya.

"Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi," kata Said Aqil dalam webinar bertajuk 'Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial', Selasa (30/3/2021) seperti dilansir Inews.

Sejauh yang diketahui, kata dia, siapapun orang yang masuk ke dalam ajaran wahabi, maka orang tersebut berpeluang untuk melakukan aksi terorisme. Mereka sudah berani menghalalkan tindakan pembunuhan.

Begitu juga dengan ajaran Salafi, tuturnya, ajaran yang dianggap ekstrem. Hal yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi di zaman Rasulullah dianggap Bit'ah atau sesat. Sama seperti Wahabi, ajaran ini bisa mengajarkan golongannya untuk menghalalkan pembunuhan bagi mereka yang dianggap tidak sejalan.

"Artinya, kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar satu barisan ingin hadapi atau menghabisi jaringan terorisme dan radikalisme, benihnya dong yang harus dihadapi, benihnya. Pintu masuknya yang harus dihabisin," kata dia.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengajak masyarakat mewaspadai ancaman gerakan-gerakan terorisme. Sel-sel terorisme hingga saat ini masih ada di tengah masyarakat.

"Ternyata masih ada sel-sel itu. Kadang-kadang dia tidak muncul, tapi satu ketika dia tiba-tiba muncul, jadi masyarakat harus terus waspada," kata Ma'ruf usai meninjau vaksinasi di Barito Utara, Kalimantan Tengah, Selasa (30/3/2021).

Ma'ruf berharap tokoh agama dan tokoh masyarakat membantu aparat memberi edukasi bahaya radikalisme dan terorisme.

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan terorisme tidak ada kaitanya dengan agama apapun. Sebab, tidak ada satu pun ajaran agama yang menyuruh melakukan kekerasan hingga menyebabkan korban jiwa.***


Lihat artikel asli

Tuesday, March 30, 2021

[Asi News] Part 1 Histeris,Ternyata Ini Prinsip Ahok Yang Membuat Anies Terperosok,Warga Menangis, Part 2 DKI Menyesal

Part 1
*Histeris,Ternyata Ini Prinsip Ahok Yang* 
*Membuat Anies Terperosok,Warga Menangis*
*WAKILRAKYAT.IniOK.com*

Part 2
*PEMIMPIN BANGSAT.?? AKHIRNYA TERBUKTI OMONGAN* 
*AHOK MENGENAI ANIES, DKI MENYESAL?*

FPI, SARANG PEMBIBITAN TERORIS

*FPI, SARANG PEMBIBITAN TERORIS* 

"Hati-hati, anggota FPI mau meledakkan banyak tempat ibadah di Indonesia. Mereka ingin ada pembalasan terhadap penangkapan Riziek, Imam besar mereka.."

Info itu saya dengar beberapa hari lalu sesudah penangkapan 21 anggota teroris di Makassar. Dari 21 teroris itu, 19 diantaranya adalah anggota FPI aktif. Dari merekalah, polisi melacak keberadaan jaringan lainnya dan diketahui mereka ada di beberapa tempat termasuk di Jakarta dan Bekasi.

Di Jakarta, tepatnya di daerah Condet dan di Bekasi, Densus 88 berhasil menggerebek sarang mereka. Dari mereka juga disita 5 bom aktif dan bahan peledak yang cukup untuk membuat 70 bom pipa. Dan yang tidak mengherankan, di dalam rumah para teroris itu, ada poster Riziek dan baju FPI beserta kartu anggota mereka. 

Sayangnya, satu pasangan teroris di Makasar berhasil lolos dan meledakkan diri mereka di depan Gereja Katedral dgn bom daya ledak tinggi. Untungnya tidak ada korban jiwa, selain pasangan teroris itu.

Perburuan polisi terhadap para teroris ini belum selesai. Beberapa tempat sudah dipantau terkait jaringan teroris Makasar. Kemungkinan dalam waktu dekat kita akan mendengar lagi, beberapa teroris ditangkap. 

Dan jangan kaget, kalau diantara mereka ada anggota FPI lagi.

Sejak dulu, polisi memang sudah melihat bahwa FPI adalah tempat pembibitan para teroris. Penembakan di tol KM 50 itu karena para laskar FPI itu ganasnya sudah bukan lagi level ganas ormas, tapi ganas level teroris yang menganggap bahwa mereka berjihad dan anggota polisi itu halal darahnya.

Kita harus angkat secangkir kopi atas sigapnya kepolisian menghadapi mereka. Pasti panah fitnah akan menghajar pihak kepolisian kita dari para simpatisan mereka. Seperti biasa, simpatisan FPI akan menyangkal dan menganggap bahwa semua itu settingan aparat.

Jangan kasih kendor, pak Pol. Pepet terus. FPI boleh bubar, tapi sel-selnya masih terus bergerak dan menunggu kesempatan untuk mereka keluar.

Seruput kopinya..

Denny Siregar

Syarat Menjadi Presiden & Wakil

 

*Syarat Menjadi Presiden & Wakil*
Wakil Presiden di Indonesia? UUD 1945 mengatur, bahwa calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a.   warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri (Pasal 6 (1) UUD 1945);

b.   tidak pernah mengkhianati negara (Pasal 6 (1) UUD 1945);

c.   mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Pre-siden (Pasal 6 (1) UUD 1945);

d.   dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rak-yat (Pasal 6 A (1) UUD 1945);

e.   diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum (Pasal 6 A (2) UUD 1945).

Syarat-syarat untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden diatur lebih lanjut dengan undang-undang (Pasal 6 (2) UUD 1945). Dalam Pasal 6 UU No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di-nyatakan, bahwa calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus memenuhi syarat:

a.   bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

b.   warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri;

c.   tidak pernah mengkhianati negara;

d.   mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Pre-siden;

e.   bertempat tinggal dalam wilayah negara kesatuan RI;

f.    telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara;

g.   tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara;

h. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan;

i. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;

j. tidak pernah melakukan perbuatan tercela;

k. terdaftar sebagai pemilih;

l. memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan telah melaksanakan kewajiban pajak selama lima tahun terakhir yang dibuktikan dengan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi;

m. memiliki daftar riwayat hidup;

n. belum pernah menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden selama dua kali masa jabatan dalam jabatan yang sama;

o. setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;

p. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana makar berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;

q. berusia sekurang-kurangnya 35 tahun;

r. berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau yang sederajat;

s. bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam G 30 S/PKI;

t. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. Hebat salut saya 👍👍👍👍

[Rudi S Kamri] 7 Tuduhan Rizieq Shihab Kepada Pemerintah Ibarat Jurus Dewa Mabuk Menjelang Kalah Dan Tempuruk


7 Tuduhan Rizieq Shihab Kepada Pemerintah Ibarat 
Jurus Dewa Mabuk Menjelang Kalah Dan Tempuruk
WAKILRAKYAT.IniOK.com


[Ade Armando] RIZIEQ, AMIEN, DIEN TURUT BERTANGGUNGJAWAB ATAS TRAGEDI MAKASSAR


RIZIEQ, AMIEN, DIEN TURUT BERTANGGUNGJAWAB 
ATAS TRAGEDI MAKASSAR 

Monday, March 29, 2021

Terorrris Tidak Beragama, Bulshiiit !

*Terooris Tidak Beragama, Bulshiiit !*
Sebuah kejadian memilukan terjadi di gereja Katederal Makassar. Bom bunuh diri. Pelakunya disinyalir sepasang lelaki-perempuan. Melukai banyak orang. Dan mengoyak kehidupan kita.

Lalu di TV kita kembali mendengar kata-kata bullshit itu. "Terrorist has not relegion." teroris tidak beragama, katanya. Dengan mengatakan itu, MUI misalnya, seperti ingin mencanpkan kepalanya ke dalam pasir. Menolak kenyataan.

*Coba lihat pelaku bom di Makassar itu. Periksa KTP dan Kartu keluarga mereka. Coba cek para pengacau di Mako Brimob beberapa waktgu lalu*. Atau cek mereka yang yang ditangkap oleh Densus 88 karena merencanakan serangan. Apa agamanya? Islam!

Sebagai muslim, kita boleh tersinggung dengan fakta ini. Tapi kita tidak dapat lari dari kenyataan bahwa semua yang sedang melakukan kekacauan dengan bom bunuh diri di negeri ini beragama Islam. Itu dulu yang penting kita jadikan pegangan.

Ok, selanjutnya kita telaah. Siapa yang mencoba membelokkan isu teroris ini dengan kepentingan politik? Atau malah menyalahkan polisi dan korban? Siapa yang bertepuk tangan gembira melihat mayat jemaat gereja bergelimpangan? Coba lihat akun media sosialnya, telusuri apa agamanya.

*Kita akan dapatkan, mereka juga beragama Islam!*

Apa latar belakang alasan mereka melakukan kebiadaban itu dan apa latar belakang alasan mereka yang membelanya? Sebagian besar justru beralasan karena agama. Statemen bahwa darah orang kafir halal, itu adalah pernyataan biadab yang berlatar belakang pemahaman agama. Mungkin bukan ajaran agama itu sendiri.

*Selanjutnya, kita pertanyakan, kenapa ada orang Islam yang berlaku biadab seperti anjing gila ngebom sana-sini?* Sementara sebagian besar muslim lain mengutuknya?

*Ini yang harus kita jadikan titik tolak.* Artinya ada segolongan umat Islam yang mengatasnamakan agama untuk melakukan kebiadaban. Dan ada banyak orang Islam yang mengutuk tindakan itu. Yang mengutuk juga merasa sedang menjalankan kewajiban agamanya untuk berbuat baik dan mengutuk kebiadaban.

Kedua kelompok kaum muslim ini merasa sedang menjalankan kewajiban agamanya. Tetapi output dari keduanya saling bertolak belakang. Artinya, pasti ada yang salah pada salah satunya. Tidak mungkin keduanya sama-sama benar, padahal apa yang dilakukan saling berseberangan.

*Pertanyaan selanjutnya, jika Anda muslim, Anda memilih untuk berdiri dimana?*

Jika Anda ikhlas dan rela agama yang Anda anut dicap sebagai agama teror, penuh kekerasan, haus darah dan menganjurkan kebencian dan barbar. Silakan Anda berdiri di belakang gerombolan teroris. Bagi saya, Anda sedang mencoreng agama Anda sendiri.

Ustad dan pembicara agama yang menganjurkan pada kekerasan, adalah orang yang sedang mencoreng wajah agama ini. Sampai saat ini saya tidak pernah dengar komentar MUI pada ceramah-ceramah Yahya Waloni yang terus menyebarkan kebencian pada agama lamanya. Saya tidak pernah mendengar kritik MUI pada mulutnya Rizieq yang bicara soal penggal kepala. 

*Saya gak pernah dengar MUI mengiritik isi ceramah Radio Rodja yang menyebarkan paham kekerasan*. Atau banyak ustad bermulut kotor dan hobi memprovokasi. Yang saya tangkap, justru sebagian pengurus MUI yang hobi berkomentar provokatif atas nama agama.

*Para politisi berkedok agama yang memanfaatkan isu terorisme untuk mengambil keuntungan politis*, adalah para perusak agama ini. MUI juga gak pernah menegur Amien Rais, yang mengancam menyerukan hayya alal jihad atau membagi Parpol menjadi Partai Allah dan partai setan. 

Dengan mengatakan teroris tidak beragama, MUI seperti mau cuci tangan. Tidak mau mengakui kenyataan.

Jika Anda meyakini Islam adalah agama damai, agama yang menganjurkan menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam, agama yang menegakkan keadilan, maka Anda harus bersikap melawan siapa saja yang ingin membengkokkan ajaran mulia ini menjadi seruan yang penuh kengerian dan darah. Atas nama agama, Anda wajib memerangi para perusak Islam.

Kenapa penyimpangan pemahaman agama ini makin marak? Karena ustad-ustad berpaham pekok dan penuh kebencian difasilitasi untuk berbicara di TV. Karena sekolah-sekolah dan pengajian dimasuki para penganjur kekerasan. Karena di lembaga legislatif ada partai yang sering menunggangi agama demi kepentingan politiknya.

*Para laskar unyu-unyu sok beringas digembalakan untuk menyuarakan kebencian*, padahal hanya untuk kepentingan politik dan ekonomi para tokohnya saja.

Para kurcaci berteriak anti pornografi, imamnya terlibat kasus chat mesum.

Para kurcaci diarahkan berjuang membela pemimpin muslim, pemimpinnya sedang asyik membagi-bagi dana APBD.

*Para kurcaci diarahkan membela partai, Presiden dan tokoh partainya terlibat korupsi* bersama para istri simpanan.

Para kurcaci diminta sumbangan untuk kaum muslim di Allepo, padahal dananya diserahkan kepada kaum teroris di Suriah.

*Sekarang waktunya bergandengan tangan dengan siapa saja yang mencintai hidup damai*, untuk melawan biang kerok kekacauan ini. Kita berhadapan dengan para ustad penganjur kekerasan dan kebencian, stasiun TV yang menayangkan penyeru kekacauan, para politisi ngehe yang menjajakan nama Islam untuk kursi kekuasaan, para pemandu sorak teroris di media sosial, adalah pihak yang harus dihadapi setiap hari. Agar bangsa ini tidak berkembang seperti Suriah atau Libya.

*Apakah teroris tidak beragama?* Tidak, mereka beragama dan agamanya adalah Islam. Apakah mereka keyakini agama Islam secara benar? Itu masalahnya.

*Oleh sebab itu, jika umat Islam tidak mau agamanya disebut agama teroris, maka kaum muslimlah yang paling berkepentingan membersihkah tubuhnya* dari kanker ganas yang membahayakan ini.
 By Eko Kuntadhi
*WAKILRAKYAT.IniOK.com*

Sunday, March 28, 2021

[Andre Vincent W] Setelah Politisasi Agama, Ada Lagi yang Lebih Licin: Politisasi Pancasila dan Politisasi Jokowi

 

*Setelah Politisasi Agama, Ada Lagi yang Lebih Licin:* 
*Politisasi Pancasila dan Politisasi Jokowi*
“Kita harus membela negara, jelas, itu harus!,” begitu pesan sahabat saya Ustad Taufik Damas. Kemudian ia melanjutkan, “Tapi membela pemerintah, itu boleh, bukan harus.” Lho apa bedanya?

Ya bedalah, keharusan itu mutlak. Sedangkan boleh itu ya boleh dibela, tapi juga boleh dikritik. Itu saja kok maksudnya. Jelas bukan? Kalau benar ya didukung, kalau melenceng ya dikritik. Dan tatkala dikritik ya jangan baperan.

*Karena administrasi pemerintahan itu scope (cakupannya) sangat luas, sehingga rentang kendali dari seorang Presiden Joko Widodo pun perlu bantuan (peran) publik untuk “membantu”nya. Bagaimana membantunya?* 

*Ya dengan masukan dan kritik.Bukan mengkritik pribadi Jokowi*, tapi mengkritik dan memberi masukan bagi kebijakan administrasi pemerintahannya, termasuk kebijakan dari para pembantunya (menteri-menterinya). Soal importasi beras pada saat yang tidak pas misalnya.

Sederhana saja sih sebetulnya. Tapi biasanya yang baperan itu bukan pemerintahnya, tapi para pendukung fanatik dan tentu saja para buzzers yang sama dan sebangun mentalitasnya dengan buzzers para oposisi. Sama-sama pakai kaca-mata-kuda!

*Kata orang, anjing herder memang lebih galak daripada tuannya.*

*Tapi bukankah para pendukung,kubu mana pun, khan manusia*, bukan herder? Ya betul, lantaran itulah kita senantiasa mengajak dan menghimbau jangan pernah mau pakai (atau dipakaikan kaca-mata-kuda, alias dicuci otak) untuk jadi seperti herder itu.

Dalam hal apa saja sih isu hangat atau panas yang sering dipakai untuk menggosok dan menggerakkan para herder itu?

*Menurut kawan saya (Ustad Taufik Damas) paling tidak saat ini ada tiga isu politisasi yang sering dipakai: Politisasi Agama, ini isu sudah lama*. Lalu ada lagi yang baru, yaitu Politisasi Pancasila, dan Politisasi Jokowi. Lho?

Politisasi Agama sudah pada mahfum bukan? Lalu apa itu Politisasi Pancasila dan Politisasi Jokowi.

*Diamati akhir-akhir ini, sementara pihak memakai jargon Pancasila (juga NKRI) hanya untuk kamuflase sesaat.* Sekedar alat saja untuk menutupi motif aslinya. Apa motif aslinya?

Motif yang sesungguhnya sebetulnya bertentangan dengan Pancasila (dan NKRI). Saat kelompok ini tertekan, mereka dengan mudah mengalihkan wacana publik untuk masuk ke isu komunisme, isu kapitalisme, isu cina, isu diskriminasi ormas, isu kriminalisasi ulama dan lain sejenisnya, yang terhadap itu semua dianggap bertentangan dengan Pancasila. 

*Lalu dengan enteng mereka “meminjam” jargon “Demi Pancasila” dan “Demi NKRI” hanya sebagai alat sementara untuk “menyelamatkan diri”. Semacam kamuflase politik.*

Lalu soal Politisasi Jokowi. Apa itu Politisasi Jokowi? Ini musuh dalam selimut. Yaitu mereka yang memakai nama besar Jokowi untuk secara klandestin (diam-diam) menjalankan operasi politiknya sendiri. Operasi politik apa?

*Ya jelas operasi oportunisme politik.* Lantaran mereka sadar bahwa diri atau kelompok atau partainya sesungguhnyalah tak punya kredibitas sosial yang cukup tinggi dibanding nama Jokowi.

*Maka mereka pun dengan lihai melabel dirinya sebagai ‘Jokowers’ dan kerap bertindak over-acting dalam membela Jokowi*, masuk dalam barisan Jokowi namun pada hakekatnya hanya untuk menutupi operasi bancakannya sendiri.

*Inilah operasi serigala berbulu domba: Politisasi Pancasila dan Politisasi Jokowi.*

*Waspadalah… waspadalah!!!*

Begitulah buah bincang-bincang saya dengan sahabat, Ustad Taufik Damas, baru-baru ini.
By : Oleh: Andre Vincent Wenas
*WAKILRAKYAT.IniOK.com*
27/03/2021
Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).
Source: https://www.kompasiana.com/andrevincentwenas/605efee3d541df73620b4f94/setelah-politisasi-agama-ada-lagi-yang-lebih-licin-politisasi-pancasila-dan-politisasi-jokowi?page=all#section1 

Wednesday, March 24, 2021

Teriak Sejadi-jadinya, Ferdinand Hutahaean: Tangkap Anies! Boroknya Langsung Diumbar...

*Teriak Sejadi-jadinya, Ferdinand Hutahaean:* 
*Tangkap Anies! Boroknya Langsung Diumbar...*
*Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean*, tampak kesal dengan hasil survei yang menyebut Anies Baswedan merupakan sosok yang paling dijagokan menjadi presiden masa mendatang oleh kalangan anak muda.

*Terkait itu, Ferdinand pun justru membuka semua kegagalan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mulai dari Rumah DP nol persen hingga penanganan banjir.*

"Faktanya seperti ini, tapi masih ada yang bilang Anies sukses? Anies capres terkuat versi anak muda, ini lima hal yang perlu diketahui dari data survei Indikator, rumah DP nol persen gagal dan korupsi, Formula E gagal fee gelap gulita, banjir tetap tinggi, tapi diklaim sukses hanya dengan mengecat atap dan mengecat kolong flyover. Begitu susahkah mencari yang waras sekarang? Tangkap Anies," cuitnya dalam akun Twitter @FerdinandHaean3 seperti dilihat di Jakarta, Selasa (23/3/2021).

Sebelumnya, ia juga menyoroti gaya komunikasi Anies yang disebut-sebut unggul ketimbang tokoh-tokoh lain. Karena itu, ia tidak menampik jika narasi dan diksi yang dilontarkan Anies memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan milenial.

*Namun, dia meminta para generasi milenial untuk mewaspadai kemampuan Anies tersebut.*

"Dalam teori komunikasi, narasi dan pilihan diksi yang disampaikan oleh seseorang memang menjadi daya tarik tersendiri terlebih bagi milenial sekarang yang sudah rata-rata fasih dengan bahasa asing," lanjutnya..

"Tapi jangan lupa, pembohong sukses berbohong karena pintar berbicara!" sindirnya.

*Kemudian ia meminta Anies dan para pendukungnya jangan senang dulu. Menurut dia, hasil survei tersebut belum tentu bisa menjadikan Anies sebagai presiden.*

"Memangnya survei Indikator yang menentukan siapa Presiden Indonesia? Hahaha baru di survei begitu saja bangganya sudah setengah mati kaum kadrun," cuit Ferdinand.

Dia menegaskan, Indonesia bukan saja Jakarta. "Woi drun, ini Indonesia bukan Petamburan," cetusnya.

Bukan hanya Ferdinand, politisi-politisi lain juga turut berkomentar dan menanggapi hasil survei tersebut.

*Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menanggapi santai hasil survei tersebut. Apalagi, orang yang belum menentukan pilihannya masih tinggi juga. Anggota DPRD DKI Fraksi PDIP, Pantas Nainggolan, mensinyalir pemilih Anies cuma melihat dari panggung depannya saja.*

"Jangan lihat cover-nya. Pilihan mereka masih didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan emosional," terang Pantas.

Jubir PSI, Faldo Maldini meminta pendukung Anies menyudahi kegembiraannya. Karena jawaban dari survei IPI didominasi keraguan ketimbang memilih Anies.

"Kalau dibaca survei itu dengan seksama, pendukung Anies jangan senang dulu. Bukan Anies yang ideal bagi anak muda hari ini," bebernya.

*Sementara para pendukung Anies menyambut baik hasil survei tersebut. Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera mengatakan, survei ini berkah keuletan Anies dalam memimpin DKI.*

"Bravo Mas Anies," tutur Mardani.

Namun, Mardani mewanti-wanti, ketiadaan Pilkada 2022 menjadi tantangan sendiri bagi Anies untuk mempertahankan posisinya, bahkan mengerek elektabilitasnya.

"Mesti terus mampu berkomunikasi gagasan dengan anak muda. 2024 memang eranya anak muda. Semoga menjadi titik balik kemajuan Indonesia," tambah anggota Komisi II DPR itu.

*Loyalis Anies, Geisz Chalifah mengatakan, jauh sebelum survei IPI dilaksanakan, elektabilitas Anies memang sudah tinggi.*

"Elektabilitas Anies akan terus naik karena beberapa program besarnya tuntas, Jakarta Internasional Stadium, revitalisasi Taman Ismail Marzuki, termasuk Monas," kata Geisz.

Dia meminta musuh-musuh Anies anteng-anteng saja. Tidak perlu panik. Karena dia percaya elektabilitas Anies selalu tinggi.

"Buzzer enggak bisa men-donwgrade posisi Anies. Meme cemoohan nggak mempan karena hasil kerja Anies sangat dirasakan," tegas Komisaris Ancol itu.

*Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi yang teratas sebagai calon presiden pilihan anak muda berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu, 21 Maret 2021. Anies Baswedan menduduki peringkat pertama hasil survei Indikator dengan persentase 15,2 persen.*

"Di antara 17 nama yang paling tinggi secara absolut yang tertinggi itu Anies Baswedan," kata Direktur Eksekutif Indikator Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.

Selanjutnya disusul Ganjar Pranowo sebesar 13,7 persen dan Ridwan Kamil 10,2 persen, Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto mendapat suara masing-masing 9,8 persen dan 9,5 persen. Di posisi keenam ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 4,1 persen.

Sisanya, masing-masing nama mendapat pilihan di bawah 2 persen, seperti Tito Karnavian, Puan Maharani, Eric Thohir, Gatot Nurmantyo, dan Khofifah.

*Dari survei ini ditemukan juga data anak muda yang memilih Joko Widodo pilihannya menyebar ke sejumlah nama. Akan tetapi, Anies paling banyak dipilih dari pendukung Prabowo-Sandi.*

"Kalau melihat datanya secara umum, Anies paling banyak mendapat dukungan di antara mereka yang mencoblos Pak Prabowo-Sandi pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019," kata Burhanuddin.

Penulis: Redaksi WE Online Editor: Vicky Fadil

ANIES "SELALU" BENER BOONGNYA GUBERNUR RASA TUKANG OBAT!


*ANIES 'SELALU'BENER BOONGNYA GUBERNUR*
*RASA TUKANG OBAT!*

GILA 99% MORAL PEJABAT KORUP CUMA UNTUNG BELUM DI KPK-in JADI KORUPTOR !


*GILA 99% MORAL PEJABAT KORUP CUMA UNTUNG* 
*BELUM DI KPK-in JADI KORUPTOR !*

Monday, March 22, 2021

Gaduh Sidang Rizieq Shihab, Simpatisan Berkumpul di Sekitar Pengadilan Negeri


*Gaduh Sidang Rizieq Shihab, Simpatisan* 
*Berkumpul di Sekitar Pengadilan Negeri*
"Menolak Dibawa Sidang Online, Habib Rizieq Berdebat Dengan Jaksa"

Friday, March 19, 2021

Anis Lagi....Anis Lagi.

*Anis Lagi....Anis Lagi.*
_*Memang, Anies itu adalah masalah terbesar bagi Jakarta. Karena ia menyebabkan banyak masalah lain bermunculan. Boro-boro menyelesaikan masalah yang ada. Anies justru sibuk mengumpulkan penghargaan. Simak lebih lanjut dalam Channel Eko Kuntadhi: Anies Lagi, Anies Lagi!*_

Strategi Adu-Domba Dengan Hembuskan Hoax Pencapresan "Puan-Moeldoko"


*Strategi Adu-Domba Dengan Hembuskan* 
*Hoax Pencapresan "Puan-Moeldoko"*
Strategi politik kotor sedang dimainkan oleh kelompok tertentu untuk menyudutkan 
Pemerintah dan PDIP.Siapa yang sedang bermain api ? Ikuti OPINI RUDI dalam video ini.

SUASANA KONDISI POLITIK SAAT INI HOROR, JOKOWI MENAKUTKAN !!

*SUASANA KONDISI POLITIK SAAT INI* *HOROR, JOKOWI MENAKUTKAN !!*
*22 tahun pasca runtuhnya orba kita tidak merasakan perubahan yg signifikan. 6,5 thn pertama di era Habibie, GUSDUR dan Megawati kita hanya diberi pemanis kembang gula, manis di permukaan, pahit pada dasarnya.*

Masa transisi itu sulit dilalui karena sejatinya hanya segelintir orang yg benar² mau berubah dari kemapanan hidup dgn cara siluman, setiap bangun pagi nafas kita hanya diisi oleh barang bersubsidi. Itu yg disebut oleh arwah Soeharto dgn jargon " enak zaman ku tho ".

Beberapa kali kita katakan munculnya SBY adalah sebuah kecelakaan fatal buat Indonesia, bayangkan selain porak poranda masalah pembangunan, dan keuangan, dia juga membiarkan berseminya bibit perpecahan antar anak bangsa dalam kerentanan yg nyata khususnya agama.

*Pembiarannya terhadap HTI, FPI yg ber DNA teroris adalah bukti dia tak perduli Indonesia mau jadi apa, yg penting dia HEPI sambil nyanyi. Atau itulah kapasitasnya, sehingga outputnya nyaris menghanguskan Indonesia.*

Sampai pada titik masuk ke zona membahayakan SBY hanya prihatin. Untung saja Tuhan berkehendak lain, Jokowi di hadirkan, HTI dan FPI di bubarkan, Indonesia terselamatkan.

*Hadirnya Jokowi bak mimpi diujung tidur panjang, tapi begitu tersentak kita terbangun didepan kenyataan, bahwa hasil kerjanya jelas ada di depan mata.* 

Jokowi benar² bekerja, dan Indonesia seperti mendapat nutrisi dan transfusi darah baru, darah kebenaran.

Ibarat terserang kanker stadium 4, Indonesia nyaris sekarat. Jokowi bak dokter spesialis, dia mengenal anatomi Indonesia, dia sentuh dari Aceh sampai Papua yg masih menyimpan rasa sakit akibat ulah orba, dan SBY yg tak merubah apa² utk bangsa besar ini, malah badannya dia sendiri yg tambah melebar tapi kerjanya hambar.

*Jangan biarkan kopimu dingin, bola liar sedang menggelinding. Demokrat adalah kuda jingkrak yg pelananya di perebutkan dua jocky. Kita lihat siapa yg akan bertahan duduk diatasnya, Moeldoko atau AHY, karena yg terjadi disana akan mempengaruhi arah politik Indonesia.* (_*teruskan baca artikel menarik di bawah ini ... *_👤👪👫👇)
Saat ini ada dua kutub tarik menarik antara rakyat dan para pengkhianat, rakyat mau Jokowi 3 kali, pengkhianat maunya Jokowi berhenti. Lihat saja pancingannya dimana2, PKS, Amin Rais, dan ada juga umpan kepura²an seperti Nasdem. Kenapa mereka melempar isu itu, ya karena mereka mengukur kekuatan dan jago yg akan di pasangkan.

*Secara politik benar kalau isu 3 PRIODE di lempar oleh mereka sebagai umpan berharap di tangkap Jokowi kemudian di smash balik. Serangannya bisa macam² bisa dibilang Jokowi tak patuh UU, atau mungkin isu keserakahan kekuasaan akan di hembuskan.*

*Bertemunya Nasdem dan Golkar adalah bak CLBK, kita tau SP siapa, dan Golkar siapa, serta sosok yg mana yg masih bermain disana, tentunya yg jelas msh ada JK. Politikus tua dan kawakan yg kondisinya sdg di pergunjingkan dgn isu macam² ini tidak akan berhenti sebelum mati.*

Jokowi sdh bbrp kali menolak isu itu, dia tdk mau. Manusia yg patuh akan kebenaran ini tidak mau melanggar akhlak politik apalagi memaksakan akhlaknya utk sebuah kekuasaan.

*Pertanyaannya kalau Jokowi nggak mau walau jelas figurnya masih sangat diperlukan.* Dan itu bukan asal2an, rakyatlah yg memintanya, jd pak Jokowi tdk harus merasa di jerumuskan, bagaimana kalau kelak hasil kerjanya dihancurkan para buaya yg kelaparan karena selama Jokowi memimpin mereka susah menelan tangkapan yg selama ini mereka santap beramai².

Mereka menyantap APBN, APBD, SDA, BBM, IKAN DILAUT, dst. Apa tidak sia² jerih payah membangun jatuh bangun selama 10 tahun mau diserahkan ke penyamun yg sudah lama manyun. 

*Bagaimana Jokowi punya perasaan di jerumuskan, ada 86 jt suara yg memilihnya, dan saat ini dgn kepuasan kepemimpinannya bisa lebih dari 100jt yg pasti mendukungnya, insyaallah.*

Tapi ini bukan lagi soal dukung dan tidak mendukung. Ini masalahnya ada pada Jokowi yg sudah bbrp kali menolak di calonkan lagi.
Pertanyaanya dan lagi² pertanyaan, siapa yg akan menggantikan. 

*Kita tidak ada harapan kalau menunggu partai yg mengusung*  , apalagi dari calon yg digadang²kan apa yg bisa kita harap dari mereka, belum lagi sebagian dari mereka msh ber DNA orba dan harum Cendana.

*Tapi apa mau dikata kalau Jokowi tak bersedia, kita tunggu signal Jokowi dan bgmn Demokrat di sikat. Disana ada Moeldoko, ada juga Gibran sebagai kuda hitam tapi memberi harapan.*

Indonesia diujung masa transisi, sayang kalau pondasi yg di bangun ulang Jokowi di estafet kan kepada pencuri. Kita bakal gigit jari dan mereka menari lagi.

*DUH GUSTI, NGERI KAMI MENATAP MASA DEPAN NEGERI INI SEPENINGGAL JOKOWI, TAPI KAMI YAKIN TUHAN AKAN MEMBUKA HATINYA, AGAR DIA TAK PERGI BEGITU SAJA SEBELUM MENYIAPKAN PENGGANTINYA. SEMOGA KESATRIAANNYA TERUS ADA UNTUK INDONESIA.*

*DIA DI SEGANI DUNIA, DI CINTAI RAKYATNYA DAN DI TAKUTI LAWAN²NYA.*
By. Iyyas Subiakto.

Thursday, March 18, 2021

(Aneh!!) Jokowi Bikin Tim Pemburu Koruptor, KPK Kok Menolak? Apa Yang KPK Takutkan?

 *(Aneh!!) Jokowi Bikin Tim Pemburu Koruptor,* 
*KPK Kok Menolak? Apa Yang KPK Takutkan?*

Jaya Wijaya 
*Pemberantasan korupsi di Indonesia sejauh ini masih belum maksimal, karena tebang pilih kasus dan konflik kepentingan aromanya begitu menyengat.* Masyarakat sudah protes, namun sepertinya semua diam dengan kondisi yang terjadi ini. Akhirnya? Jokowi menjawab kegelisahan masyarakat dengan rencana membentuk TPK alias Tim Pemburu Koruptor.

*Ini adalah bukti keseriusan Jokowi memberantas korupsi. Tapi ada yang aneh di sini, KPK sebagai lembaga yang katanya memberantas korupsi menolak rencana ini?* penulis mencium something fishy di sini, apa yang ditakutkan oleh KPK.

*Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita lihat fakta-fakta mengecewakan KPK berikut ini :*
 
*KPK adalah lembaga dengan anggaran sekitar 1,3 Triliun,* tapi kasus korupsi yang ditangani adalah korupsi receh dengan potensi kerugian negara Miliaran. Bandingkan dengan kejaksaan yang mengurusi kasus puluhan Triliun! bagaikan langit dan bumi. Sumber.

KPK justru membiarkan dan menggantung kasus dengan potensi ratusan miliar, seperti kasus RJ Lino. Sudah mengurusi kasus receh, begitu ada kasus besar malah tidak diurusi. Sumber.

*KPK lalu tiba-tiba mengambil alih kasus korupsi rumah DP 0% yang di dalamnya diduga keterlibatan saudara "Nick Fury"*, padahal kasus ini sudah masuk tahap penyidikan di Bareskrim Polri. Bertahun-tahun tidak pernah mengurusi kasus besar, begitu ada dugaan keterlibatan saudara "Nick Fury", langsung menyerobot kasus besar yang sudah ditangani kepolisian. Sumber.

KPK jauh lebih banyak dan ahli dalam mengurusi kasus suap, daripada kasus korupsi besar. Anehnya kasus suap Harun Masiku, sampai saat ini tidak terlihat ada upaya KPK untuk menangkap pelaku. Kasus ini seperti dijadikan senjata "abadi" untuk menyerang pemerintahan. Terbukti di media sosial kasus ini sering ditanyakan kadrun tapi salah alamat, padahal ini adalah tugas KPK. Sumber.

*Diantara banyaknya keanehan yang dilakukan KPK, banyak masyarakat yang meminta KPK untuk dibubarkan dan penanganan korupsi diserahkan kepada Kepolisian dan Kejaksaan.* Tapi di sini Jokowi dan pemerintah masih membela KPK, karena bagaimanapun KPK adalah lembaga yang dibentuk pada era presiden Megawati.
 
*Akhirnya Jokowi berbaik hati untuk menutupi kelemahan-kelemahan KPK* ini, caranya adalah dengan rencana pembentukan Tim Pemburu Koruptor. Ini adalah bukti bahwa Jokowi bukan presiden yang senang menyalahkan, tapi Jokowi adalah presiden yang menjawab permasalahan dengan solusi.

*Tapi apa yang terjadi? pembentukan Tim Pemburu Koruptor tersebut jutsru ditentang oleh KPK!!* Penulis jadi bertanya-tanya, ini KPK serius tidak memberantas korupsi? Kehadiran Tim Pemburu Koruptor tentu akan membantu KPK dalam memberantas korupsi, kecuali kalau KPK hanya ingin menuntaskan sebagian kasus saja, yang artinya KPK tebang pilih!!

*Berikut beritanya dikutip detik.com :*

*"Kita terus mendiskusikannya. Karena dulu kan begitu itu dilontarkan,* banyak yang tidak setuju. KPK sendiri ndak setuju pada waktu itu, katanya ini tumpang-tindih aja kan, ini kerjaan-kerjaan rutin. Oke kita dengar semua, lalu kita diskusikan lagi. Jadi itu masih terus dibahas, tapi dulu SK yang lama kan masih ada sebenarnya," ucapnya.

*Perhatikan kalimat yang penulis bold!! Itu adalah bukti bahwa KPK menolak pembentukan Tim Pemberantas Korupsi ini.* Alasannya menurut penulis terlalu klise, kenapa harus takut tumpang tindih? kecuali KPK sudah bisa menangani semua kasus korupsi baru akan tumpang tindih.

*Sekarang kan masih banyak kasus yang belum diselesaikan, contohnya penangkapan Harun Masiku.* Kecuali KPK ingin kasus tersebut terus digantung sebagai bahan "masturbasi otak" kadrun untuk menyerang pemerintah. Kenapa harus takut tumpang tindih? padahal lembaga lain tidak pernah ada yang menyerobot kasus yang ditangani KPK, malah KPK yang justru menyerobot kasus korupsi DP 0% yang sudah lama ditangani Bareskrim Polri.

*Sampai sini penulis melihat keseriusan Jokowi untuk membereskan korupsi dengan tuntas, justru penulis melihat aroma tebang pilih KPK semakin menyengat setelah menolak pembentukan Tim Pemburu Koruptor ini.*

*Lalu bagaimana respon kadrun ya? dengan pembentukan Tim Pemburu Koruptor ini, jika Harun Masiku masih belum tertangkap, maka kadrun bisa dengan tenang menyalahkan pemerintah. Kalau sekarang kan hanya "masturbasi otak" saja,* karena pencarian Harun Masiku adalah tugas KPK sebagai lembaga independent di luar pemerintah, dimana di dalamnya ada "Nick Fury" yang merupakan saudara jagoan kadrun.

Begitulah Kura-Kura.
Sumber : https://news.detik.com/berita/d-5494453/mahfud-md-tim-pemburu-koruptor-masih-dibahas-tapi-kpk-ndak-setuju
Mari kita dengarkan Selingan lagu di bawah ini 👇👇👇
Part 1-
*Catat: Video ini tidak ada intrupsi iklan.*
*Full Album Lagu POP Nostalgia Populer Seleksi Terbaik*
Part 2-
*Catat: Video ini tidak ada intrupsi iklan.*
*Lagu Paling Populer Sepanjang Karir*

Friday, March 12, 2021

MENGULITI ANIES

*MENGULITI ANIES*
Oleh : Eko Kuntadhi
*Program unggulan Anies Baswedan yang disemburkan saat kampanye mulai dikuliti satu-satu. Sejak awal Anies bicara program-programnya emang isinya mirip bungkus chiki, tampilan doang yang besar. Isinya kebanyakan angin.*

Saat itu saya sudah yakin programnya bakal nggak jalan. Wong isinya angin. Cuma ngomong sekebon.

Program rumah DP 0% misalnya. Dari target 232 ribu unit rumah yang akan dibangun Anies 2017-2022, yang baru terealisasi hanya 1000 unit. Gak sampai 1%. Padahal sekarang sudah 2021.

Bahkan dari 1000 unit itu, yang dihuni paling hanya 200-an. Lihat saja apartemen Pondok Kelapa, yang kini mirip rumah hantu, kosong melompong.

*Kegagalan program ini ditambah lagi dengan kasus korupsi. KPK sudah menjadikan direktur Sarana Jaya sebagai tersangka. Duit Rp270 miliar untuk pengadaan tanah nggak jelas juntrungannya.* Pemiliknya belum sepakat, duitnya sudah dibayarkan ke calo.

Sarana Jaya sebagai BUMD milik Pemda DKI memang bertugas menyediakan tanah untuk proyek rumah DP 0%.

*Yang baru kebongkar memang untuk kasus pembelian tanah di Pondok Ranggon, Cipayung, Jaktim. Padahal ada 9 bidang tanah lagi yang diperuntukan buat program bungkus Chiki itu.*

Lain lagi sama program penanganan banjir. Sebetulnya program ini sudah ada rencana besarnya. Pemerintah pusat membangun bendungan di bagian hulu untuk menahan air masuk Jakarta. Sementara Pemda DKI diminta mengurus aliran sungainya.

Dua bendungan di Bogor sedang dalam proses penyeselasaian akhir sekarang. Lokasinya di Sukamahi dan Ciawi. Gimana pengurusan soal sungai?

Inilah masalahnya. Waktu jaman Ahok, sungai-sungai itu ditangani dengan normalisasi. Pinggiran kali di beton, dibuatkan jalur inspeksi di kiri kanannya. Dari 33 KM aliran kali di Jakarta, sudah 16 KM yang dikerjakan.

Waktu itu masyarakat yang tinggal di pinggiran kali, direlokasi ke rumah susun sewa murah. Sewanya ada yang hanya Rp180 ribu sebulan. Lengkap dengan furniture.

Lalu Anies datang. Menolak normalisasi. Ia mau melakukan naturalisasi. Idenya tidak membeton pinggiran kali, tapi dibiarkan natural.

*Masalahnya rencana ini membutuhkan pinggiran kali yang melandai. Butuh lahan sangat luas di kiri kanan kali. Sedangkan kali-kali di Jakarta pinggirannya sudah padat penduduk.*

Jika mau melakukan Anies harus membebaskan tanah lebih luas. Warga yang dipindahkan lebih banyak. Tapi gimana cara mindahinnya, wong kalau mau menghuni rumah DP 0% mereka kudu bergaji Rp7 juta.

Dalam Pergub DKI No. 31/2-19 tentang Pembangunan dan Revitalisasi Prasarana Sumber Daya Air dengan Konsep Naturalisasi. Uniknya, ada klausul bahwa revitalisasi itu dilakukan dengan syarat lahannya tersedia.

Kalau tidak ada lahan? Ya udah, nggak usah kerja.

Pergub itu didramatisir oleh Dinas Sumber Daya Air dengan ketentuan teknis bahwa turap beton nggak bisa lagi digunakan. Turap harus batu bronjongan yang landai selebar 12 meter.

Lantas, ada jalur hijau penahan erosi, jalan inspeksi. Kalau harus memenuhi kaidah ini, sempadan dan badan Sungai Ciliwung lebarnya paling kurang 75 meter.

Jelas tak ada tanah nganggur selebar itu di DKI. Jadi, Pergub itu seperti pembenaran bagi Anies untuk tidak melakukan apapun di Kali Ciliwung, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan dll.

Resikonya, kalau hujan deras Jakarta tetap banjir. Wong nggak ada aksi sama sekali.

Juaini Yusuf, Kadin SDA Pemda DKI yang sudah pasang badan buat program bungkus Chiki itu, dicopot. Pas ketika Jakarta dilanda banjir Febuari 2021 kemarin.

*Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saja sampai puyeng menghadapi rencana kerja Anies yang nggak jelas. Ia mengaku tidak mengerti konsep naturalisasi yang dimaui Anies.*

Basuki mengaku sudah berkali-kali minta penjelasan teknis soal naturalisasi. Hasilnya bodong. Cuma sesumbar di atas kertas.

Belum lagi soal sodetan Ciliwung yang sebetulnya tinggal beberapa ratus meter lagi. Guna sodetan itu untuk membagi arus air ke Banjir Kanal Timur. Jadi nggak numpuk di Ciliwung.

Pembangunan sodetan itu tugas pemerintah pusat. Tapi pembebasan lahannya tugas Pemda DKI. Nah, sampai sekarang nggak kelar-kelar juga. Salah satu alasannya nggak ada budget. Padahal hanya Rp160 miliar.

*Sialnya, Pemda DKI bisa tuh mengalokasikan budget buat tanda jadi Formula E yang entah kapan terlaksana. Duit yang sudah keluar Rp560 miliar.*

Mikir nggak sih, masa buang-buang duit buat kegiatan yang nggak ada manfaatnya bisa dilakukan. Tapi membebaskan lahan sodetan Ciliwung ngakunya nggak punya duit?

Kalau cuma Rp160 miliar, dividen yang didapat Pemda dari saham perusahaan bir selama dua tahun rasanya bisa deh, buat nutupin biayanya. Masalahnya ada kemauan nggak?

Mungkin sadar program bungkus Chikinya nggak bisa jalan. Wagub DKI Ariza kemarin menyatakan normalisasi akan dilakukan tahun ini. Nah, balik lagi kan. Normalisasi. Karena memang langkah itu yang paling memungkinkan buat Jakarta.

Untuk melakukan normalisasi, terpaksa Gubernur harus merevisi Pergub naturalisasi yang penuh hayalan itu.

Sebetulnya masih ada Oke-OC yang dulu juga jadi program andalan ketika kampanye. Entah gimana nasibnya sekarang. Sejalan dengan mundurnya Sandi jadi Wagub.

Itulah resikonya kalau memilih Gubernur yang programnya mirip bungkus Chiki. Keliatan gede. Isinya cuma angin doang.

"Omongan Anies kayak tante Mirna tetangga kita ya, mas. Semok, putih, mulus. Tapi gak bisa dipegang," ujar Abu Kumkum.
.#WallOfShameGabener

Tags

3 Denny Siregar (14) Aoky Vera (11) 1 Ade Armando (7) Ninoy N Karundeng (7) 2 Raja Bonar (6) Eko Kuntadhi (6) 4 Rudi S Kamri (5) Andre Vincent W (5) Iyyas Subiakto (4) Perangi Radikalisme (4) Analisis Politik (3) Politik (3) Surat Terbuka (3) BUMN (2) Birgaldo Sinaga (2) Dugaan Rekayasa (2) Jubir Teroris (2) Kejahatan Organisasi (2) Pembohongan Publik (2) Perangi Teroris (2) Tingkah Laku (2) Tirta (2) Tito Gatsu (2) Ajaran Nabi (1) Akhmad Sahal (1) Aneh Bin Nyata (1) Aoki Vera - Live (1) Aroma Koruptor (1) Asi News (1) Azab DKI (1) Balap Mobil (1) Banjir Jakarta (1) Benahi DKI (1) Berita Sidang (1) Biografi Ade Armando (1) Dikormersialisasi (1) Diluar Logika (1) Dosen Universitas (1) Dugaan Cina (1) Fakta Sejarah (1) Fraksi Tv (1) Gratis Masuk Sekolah (1) Gubernur DKI (1) Hafal Alquran (1) Halal Dan Haram (1) Hutang Negara (1) Ideologi Negara (1) Instrospeksi Diri (1) Janji Politikus (1) Jaya Wijaya (1) Joko Widodo (1) Jubir FPI (1) Kadrun Berjatuhan (1) Kebobrokan Pejabat (1) Kebodohan Gubernur (1) Kebohongan Pejabat (1) Ken Setiawan (1) Korupsi (1) Kura-Kura (1) Maling Teriak Maling (1) Masalah Reklamasi (1) Melengserkan Jokowi (1) Membela Negara (1) Mobil Kalengkaleng (1) NKRI Harga Mati (1) Neo PKI (1) Nyai Dewi Tanjung (1) Orde Baru (1) Organisasi Bermasalah (1) Ormas Bermasalah (1) Pancasila (1) Pembongkar Kasus (1) Perangi Korupsi (1) Prilaku DPR RI (1) Proxy War (1) Raja Bonar (1) Rencana Menjatuhkan (1) Revisi UU KPK (1) Sarang Teroris (1) Sejarah Kelam (1) Setia Kecurangan (1) Siapa Raja Bonar (1) Soal Banjir (1) Suara Rakyat (1) Syarat Jadi Presiden (1) Terlalu Go3blog (1) Tidak Berlangsungkawa (1) Tolak Wisata Halal (1) Tunggangi Papua (1) Umat Islam (1) Vaksin (1) Wakil Rakyat (1) Wanita Jepang (1) William (1) Wisata Netral (1)