Latest News

Showing posts with label Eko Kuntadhi. Show all posts
Showing posts with label Eko Kuntadhi. Show all posts

Friday, April 2, 2021

[Eko Kuntadhi] Akui Saja Pengantin Di Makassar Itu Beragama


*Akui Saja Pengantin* 
*Di Makassar Itu Beragama*

Monday, March 29, 2021

Terorrris Tidak Beragama, Bulshiiit !

*Terooris Tidak Beragama, Bulshiiit !*
Sebuah kejadian memilukan terjadi di gereja Katederal Makassar. Bom bunuh diri. Pelakunya disinyalir sepasang lelaki-perempuan. Melukai banyak orang. Dan mengoyak kehidupan kita.

Lalu di TV kita kembali mendengar kata-kata bullshit itu. "Terrorist has not relegion." teroris tidak beragama, katanya. Dengan mengatakan itu, MUI misalnya, seperti ingin mencanpkan kepalanya ke dalam pasir. Menolak kenyataan.

*Coba lihat pelaku bom di Makassar itu. Periksa KTP dan Kartu keluarga mereka. Coba cek para pengacau di Mako Brimob beberapa waktgu lalu*. Atau cek mereka yang yang ditangkap oleh Densus 88 karena merencanakan serangan. Apa agamanya? Islam!

Sebagai muslim, kita boleh tersinggung dengan fakta ini. Tapi kita tidak dapat lari dari kenyataan bahwa semua yang sedang melakukan kekacauan dengan bom bunuh diri di negeri ini beragama Islam. Itu dulu yang penting kita jadikan pegangan.

Ok, selanjutnya kita telaah. Siapa yang mencoba membelokkan isu teroris ini dengan kepentingan politik? Atau malah menyalahkan polisi dan korban? Siapa yang bertepuk tangan gembira melihat mayat jemaat gereja bergelimpangan? Coba lihat akun media sosialnya, telusuri apa agamanya.

*Kita akan dapatkan, mereka juga beragama Islam!*

Apa latar belakang alasan mereka melakukan kebiadaban itu dan apa latar belakang alasan mereka yang membelanya? Sebagian besar justru beralasan karena agama. Statemen bahwa darah orang kafir halal, itu adalah pernyataan biadab yang berlatar belakang pemahaman agama. Mungkin bukan ajaran agama itu sendiri.

*Selanjutnya, kita pertanyakan, kenapa ada orang Islam yang berlaku biadab seperti anjing gila ngebom sana-sini?* Sementara sebagian besar muslim lain mengutuknya?

*Ini yang harus kita jadikan titik tolak.* Artinya ada segolongan umat Islam yang mengatasnamakan agama untuk melakukan kebiadaban. Dan ada banyak orang Islam yang mengutuk tindakan itu. Yang mengutuk juga merasa sedang menjalankan kewajiban agamanya untuk berbuat baik dan mengutuk kebiadaban.

Kedua kelompok kaum muslim ini merasa sedang menjalankan kewajiban agamanya. Tetapi output dari keduanya saling bertolak belakang. Artinya, pasti ada yang salah pada salah satunya. Tidak mungkin keduanya sama-sama benar, padahal apa yang dilakukan saling berseberangan.

*Pertanyaan selanjutnya, jika Anda muslim, Anda memilih untuk berdiri dimana?*

Jika Anda ikhlas dan rela agama yang Anda anut dicap sebagai agama teror, penuh kekerasan, haus darah dan menganjurkan kebencian dan barbar. Silakan Anda berdiri di belakang gerombolan teroris. Bagi saya, Anda sedang mencoreng agama Anda sendiri.

Ustad dan pembicara agama yang menganjurkan pada kekerasan, adalah orang yang sedang mencoreng wajah agama ini. Sampai saat ini saya tidak pernah dengar komentar MUI pada ceramah-ceramah Yahya Waloni yang terus menyebarkan kebencian pada agama lamanya. Saya tidak pernah mendengar kritik MUI pada mulutnya Rizieq yang bicara soal penggal kepala. 

*Saya gak pernah dengar MUI mengiritik isi ceramah Radio Rodja yang menyebarkan paham kekerasan*. Atau banyak ustad bermulut kotor dan hobi memprovokasi. Yang saya tangkap, justru sebagian pengurus MUI yang hobi berkomentar provokatif atas nama agama.

*Para politisi berkedok agama yang memanfaatkan isu terorisme untuk mengambil keuntungan politis*, adalah para perusak agama ini. MUI juga gak pernah menegur Amien Rais, yang mengancam menyerukan hayya alal jihad atau membagi Parpol menjadi Partai Allah dan partai setan. 

Dengan mengatakan teroris tidak beragama, MUI seperti mau cuci tangan. Tidak mau mengakui kenyataan.

Jika Anda meyakini Islam adalah agama damai, agama yang menganjurkan menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam, agama yang menegakkan keadilan, maka Anda harus bersikap melawan siapa saja yang ingin membengkokkan ajaran mulia ini menjadi seruan yang penuh kengerian dan darah. Atas nama agama, Anda wajib memerangi para perusak Islam.

Kenapa penyimpangan pemahaman agama ini makin marak? Karena ustad-ustad berpaham pekok dan penuh kebencian difasilitasi untuk berbicara di TV. Karena sekolah-sekolah dan pengajian dimasuki para penganjur kekerasan. Karena di lembaga legislatif ada partai yang sering menunggangi agama demi kepentingan politiknya.

*Para laskar unyu-unyu sok beringas digembalakan untuk menyuarakan kebencian*, padahal hanya untuk kepentingan politik dan ekonomi para tokohnya saja.

Para kurcaci berteriak anti pornografi, imamnya terlibat kasus chat mesum.

Para kurcaci diarahkan berjuang membela pemimpin muslim, pemimpinnya sedang asyik membagi-bagi dana APBD.

*Para kurcaci diarahkan membela partai, Presiden dan tokoh partainya terlibat korupsi* bersama para istri simpanan.

Para kurcaci diminta sumbangan untuk kaum muslim di Allepo, padahal dananya diserahkan kepada kaum teroris di Suriah.

*Sekarang waktunya bergandengan tangan dengan siapa saja yang mencintai hidup damai*, untuk melawan biang kerok kekacauan ini. Kita berhadapan dengan para ustad penganjur kekerasan dan kebencian, stasiun TV yang menayangkan penyeru kekacauan, para politisi ngehe yang menjajakan nama Islam untuk kursi kekuasaan, para pemandu sorak teroris di media sosial, adalah pihak yang harus dihadapi setiap hari. Agar bangsa ini tidak berkembang seperti Suriah atau Libya.

*Apakah teroris tidak beragama?* Tidak, mereka beragama dan agamanya adalah Islam. Apakah mereka keyakini agama Islam secara benar? Itu masalahnya.

*Oleh sebab itu, jika umat Islam tidak mau agamanya disebut agama teroris, maka kaum muslimlah yang paling berkepentingan membersihkah tubuhnya* dari kanker ganas yang membahayakan ini.
 By Eko Kuntadhi
*WAKILRAKYAT.IniOK.com*

Friday, March 19, 2021

Anis Lagi....Anis Lagi.

*Anis Lagi....Anis Lagi.*
_*Memang, Anies itu adalah masalah terbesar bagi Jakarta. Karena ia menyebabkan banyak masalah lain bermunculan. Boro-boro menyelesaikan masalah yang ada. Anies justru sibuk mengumpulkan penghargaan. Simak lebih lanjut dalam Channel Eko Kuntadhi: Anies Lagi, Anies Lagi!*_

Friday, March 12, 2021

MENGULITI ANIES

*MENGULITI ANIES*
Oleh : Eko Kuntadhi
*Program unggulan Anies Baswedan yang disemburkan saat kampanye mulai dikuliti satu-satu. Sejak awal Anies bicara program-programnya emang isinya mirip bungkus chiki, tampilan doang yang besar. Isinya kebanyakan angin.*

Saat itu saya sudah yakin programnya bakal nggak jalan. Wong isinya angin. Cuma ngomong sekebon.

Program rumah DP 0% misalnya. Dari target 232 ribu unit rumah yang akan dibangun Anies 2017-2022, yang baru terealisasi hanya 1000 unit. Gak sampai 1%. Padahal sekarang sudah 2021.

Bahkan dari 1000 unit itu, yang dihuni paling hanya 200-an. Lihat saja apartemen Pondok Kelapa, yang kini mirip rumah hantu, kosong melompong.

*Kegagalan program ini ditambah lagi dengan kasus korupsi. KPK sudah menjadikan direktur Sarana Jaya sebagai tersangka. Duit Rp270 miliar untuk pengadaan tanah nggak jelas juntrungannya.* Pemiliknya belum sepakat, duitnya sudah dibayarkan ke calo.

Sarana Jaya sebagai BUMD milik Pemda DKI memang bertugas menyediakan tanah untuk proyek rumah DP 0%.

*Yang baru kebongkar memang untuk kasus pembelian tanah di Pondok Ranggon, Cipayung, Jaktim. Padahal ada 9 bidang tanah lagi yang diperuntukan buat program bungkus Chiki itu.*

Lain lagi sama program penanganan banjir. Sebetulnya program ini sudah ada rencana besarnya. Pemerintah pusat membangun bendungan di bagian hulu untuk menahan air masuk Jakarta. Sementara Pemda DKI diminta mengurus aliran sungainya.

Dua bendungan di Bogor sedang dalam proses penyeselasaian akhir sekarang. Lokasinya di Sukamahi dan Ciawi. Gimana pengurusan soal sungai?

Inilah masalahnya. Waktu jaman Ahok, sungai-sungai itu ditangani dengan normalisasi. Pinggiran kali di beton, dibuatkan jalur inspeksi di kiri kanannya. Dari 33 KM aliran kali di Jakarta, sudah 16 KM yang dikerjakan.

Waktu itu masyarakat yang tinggal di pinggiran kali, direlokasi ke rumah susun sewa murah. Sewanya ada yang hanya Rp180 ribu sebulan. Lengkap dengan furniture.

Lalu Anies datang. Menolak normalisasi. Ia mau melakukan naturalisasi. Idenya tidak membeton pinggiran kali, tapi dibiarkan natural.

*Masalahnya rencana ini membutuhkan pinggiran kali yang melandai. Butuh lahan sangat luas di kiri kanan kali. Sedangkan kali-kali di Jakarta pinggirannya sudah padat penduduk.*

Jika mau melakukan Anies harus membebaskan tanah lebih luas. Warga yang dipindahkan lebih banyak. Tapi gimana cara mindahinnya, wong kalau mau menghuni rumah DP 0% mereka kudu bergaji Rp7 juta.

Dalam Pergub DKI No. 31/2-19 tentang Pembangunan dan Revitalisasi Prasarana Sumber Daya Air dengan Konsep Naturalisasi. Uniknya, ada klausul bahwa revitalisasi itu dilakukan dengan syarat lahannya tersedia.

Kalau tidak ada lahan? Ya udah, nggak usah kerja.

Pergub itu didramatisir oleh Dinas Sumber Daya Air dengan ketentuan teknis bahwa turap beton nggak bisa lagi digunakan. Turap harus batu bronjongan yang landai selebar 12 meter.

Lantas, ada jalur hijau penahan erosi, jalan inspeksi. Kalau harus memenuhi kaidah ini, sempadan dan badan Sungai Ciliwung lebarnya paling kurang 75 meter.

Jelas tak ada tanah nganggur selebar itu di DKI. Jadi, Pergub itu seperti pembenaran bagi Anies untuk tidak melakukan apapun di Kali Ciliwung, Kali Krukut, Kali Pesanggrahan dll.

Resikonya, kalau hujan deras Jakarta tetap banjir. Wong nggak ada aksi sama sekali.

Juaini Yusuf, Kadin SDA Pemda DKI yang sudah pasang badan buat program bungkus Chiki itu, dicopot. Pas ketika Jakarta dilanda banjir Febuari 2021 kemarin.

*Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saja sampai puyeng menghadapi rencana kerja Anies yang nggak jelas. Ia mengaku tidak mengerti konsep naturalisasi yang dimaui Anies.*

Basuki mengaku sudah berkali-kali minta penjelasan teknis soal naturalisasi. Hasilnya bodong. Cuma sesumbar di atas kertas.

Belum lagi soal sodetan Ciliwung yang sebetulnya tinggal beberapa ratus meter lagi. Guna sodetan itu untuk membagi arus air ke Banjir Kanal Timur. Jadi nggak numpuk di Ciliwung.

Pembangunan sodetan itu tugas pemerintah pusat. Tapi pembebasan lahannya tugas Pemda DKI. Nah, sampai sekarang nggak kelar-kelar juga. Salah satu alasannya nggak ada budget. Padahal hanya Rp160 miliar.

*Sialnya, Pemda DKI bisa tuh mengalokasikan budget buat tanda jadi Formula E yang entah kapan terlaksana. Duit yang sudah keluar Rp560 miliar.*

Mikir nggak sih, masa buang-buang duit buat kegiatan yang nggak ada manfaatnya bisa dilakukan. Tapi membebaskan lahan sodetan Ciliwung ngakunya nggak punya duit?

Kalau cuma Rp160 miliar, dividen yang didapat Pemda dari saham perusahaan bir selama dua tahun rasanya bisa deh, buat nutupin biayanya. Masalahnya ada kemauan nggak?

Mungkin sadar program bungkus Chikinya nggak bisa jalan. Wagub DKI Ariza kemarin menyatakan normalisasi akan dilakukan tahun ini. Nah, balik lagi kan. Normalisasi. Karena memang langkah itu yang paling memungkinkan buat Jakarta.

Untuk melakukan normalisasi, terpaksa Gubernur harus merevisi Pergub naturalisasi yang penuh hayalan itu.

Sebetulnya masih ada Oke-OC yang dulu juga jadi program andalan ketika kampanye. Entah gimana nasibnya sekarang. Sejalan dengan mundurnya Sandi jadi Wagub.

Itulah resikonya kalau memilih Gubernur yang programnya mirip bungkus Chiki. Keliatan gede. Isinya cuma angin doang.

"Omongan Anies kayak tante Mirna tetangga kita ya, mas. Semok, putih, mulus. Tapi gak bisa dipegang," ujar Abu Kumkum.
.#WallOfShameGabener

Thursday, March 4, 2021

[Eko Kuntadhi] KETIMBANG RIBET, JOKOWI MENCABUT LAMPIRAN MIRAS

 KETIMBANG RIBET, 

JOKOWI MENCABUT LAMPIRAN MIRAS

https://wakilrakyat.iniok.com/2021/03/eko-kuntadhi-ketimbang-ribet-jokowi.html


 

Wednesday, January 20, 2021

[Eko Kuntadhi] Jokowi Kembali Menghajar Gerembolan Ekstrem

*Jokowi Kembali Menghajar Gerembolan Ekstrem*
*Jokowi tegas.* *Kembali gerombolan pembuat onar dihajar*. Tidak main-main, sekarang masyarakat bisa terlibat aktif untuk menghalau gerakan berbahaya bagi Indonesia itu. Dengan Perpres No. 7 tahun 2021, *FPI dan gerombolan ekstrem kocar-kacir*. Simak lebih lanjut dalam video ini: *Jokowi Kembali Menghajar Gerombolan Ekstrem*.
*Kami selalu menyuarakan pikiran Rakyat*

Tags

3 Denny Siregar (14) Aoky Vera (11) 1 Ade Armando (7) Ninoy N Karundeng (7) 2 Raja Bonar (6) Eko Kuntadhi (6) 4 Rudi S Kamri (5) Andre Vincent W (5) Iyyas Subiakto (4) Perangi Radikalisme (4) Analisis Politik (3) Politik (3) Surat Terbuka (3) BUMN (2) Birgaldo Sinaga (2) Dugaan Rekayasa (2) Jubir Teroris (2) Kejahatan Organisasi (2) Pembohongan Publik (2) Perangi Teroris (2) Tingkah Laku (2) Tirta (2) Tito Gatsu (2) Ajaran Nabi (1) Akhmad Sahal (1) Aneh Bin Nyata (1) Aoki Vera - Live (1) Aroma Koruptor (1) Asi News (1) Azab DKI (1) Balap Mobil (1) Banjir Jakarta (1) Benahi DKI (1) Berita Sidang (1) Biografi Ade Armando (1) Dikormersialisasi (1) Diluar Logika (1) Dosen Universitas (1) Dugaan Cina (1) Fakta Sejarah (1) Fraksi Tv (1) Gratis Masuk Sekolah (1) Gubernur DKI (1) Hafal Alquran (1) Halal Dan Haram (1) Hutang Negara (1) Ideologi Negara (1) Instrospeksi Diri (1) Janji Politikus (1) Jaya Wijaya (1) Joko Widodo (1) Jubir FPI (1) Kadrun Berjatuhan (1) Kebobrokan Pejabat (1) Kebodohan Gubernur (1) Kebohongan Pejabat (1) Ken Setiawan (1) Korupsi (1) Kura-Kura (1) Maling Teriak Maling (1) Masalah Reklamasi (1) Melengserkan Jokowi (1) Membela Negara (1) Mobil Kalengkaleng (1) NKRI Harga Mati (1) Neo PKI (1) Nyai Dewi Tanjung (1) Orde Baru (1) Organisasi Bermasalah (1) Ormas Bermasalah (1) Pancasila (1) Pembongkar Kasus (1) Perangi Korupsi (1) Prilaku DPR RI (1) Proxy War (1) Raja Bonar (1) Rencana Menjatuhkan (1) Revisi UU KPK (1) Sarang Teroris (1) Sejarah Kelam (1) Setia Kecurangan (1) Siapa Raja Bonar (1) Soal Banjir (1) Suara Rakyat (1) Syarat Jadi Presiden (1) Terlalu Go3blog (1) Tidak Berlangsungkawa (1) Tolak Wisata Halal (1) Tunggangi Papua (1) Umat Islam (1) Vaksin (1) Wakil Rakyat (1) Wanita Jepang (1) William (1) Wisata Netral (1)