Latest News

Tuesday, February 2, 2021

[Rudi S Kamri] Art 1) Abu Janda: Si Penjaga Kebhinekaan Indonesia - Art.2 Opsi Arbitrase ( Josef Wnas)

Abu Janda: Si Penjaga Kebhinekaan Indonesia
Oleh:
Rudi S Kamri 
Abu Janda atau Permadi Arya adalah salah satu sahabat saya yang unik dan nyentrik. Saat bicara dengan dia apalagi yang berkaitan dengan kebangsaan dan nasionalisme dia akan antusias, ekspresif seolah seluruh tubuhnya ikut bergerak dan berbicara. Apalagi saat diajak diskusi masalah intoleransi dan radikalisme, dia pasti meledak-ledak, reaktif dan terlihat dengan nyata dia adalah anak bangsa yang sangat cinta Indonesia.

Meskipun terkesan urakan dan menggelegar suaranya, dia pribadi yang sangat rendah hati dan sangat menghargai siapapun yang diajak bicara apalagi kepada orang yang lebih senior usianya seperti saya. Kami satu pihak dalam menjaga marwah NKRI dan Pancasila. Dia secara bercanda, pernah menyebut saya komandan dalam peperangan melawan Intoleransi dan radikalisme di negeri ini, dan dia adalah Panglima Perang yang ada di garis depan. Dia memang hobby melucu dan bercanda.

Tidak bisa dipungkiri, Permadi Arya adalah pribadi yang unik dan menarik. Kecintaannya pada budaya dan agama disimbolkan dalam style berbusana sehari-hari, sering pakai jaket banser plus blangkon sebagai tutup kepala. Bagi saya hal ini bukan sekedar pilihan berbusana yang nyleneh tapi Permadi Arya ingin memberi pesan kebangsaan bahwa agama dan budaya harus saling padu padan, asih-asah-asuh.

Sekarang sahabat unik saya ini sedang tersandung masalah. Sesuatu yang biasa dan lumrah terjadi pada pegiat sosial seperti kami. Ini konsekuensi logis dari perjuangan kami dalam menjaga keindonesiaan Indonesia. Saya sudah bicara banyak dengan Permadi Arya. Saya berikan dukungan dan saran apa yang harus dilakukan. Karena saya pun juga pernah dan sedang tersandung masalah yang serupa tapi tak sama.

Ada dua kasus yang sedang menerpa Permadi Arya. Pertama, kasus pelaporan dugaan tindakan rasisme terhadap Natalius Pigai. Kedua, kasus dugaan penodaan agama. Dua kasus tersebut Permadi Arya dilaporkan oleh Haris Pertama, orang yang mengatasnamakan dirinya Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Saya menduga ada dendam pribadi antara Haris Pertama dengan Permadi Arya.

Kasus yang pertama, terkait rasisme terhadap Natalius Pigai, ini jelas kasus yang mengada-ada. Haris Pertama hanya cari sensasi. Bagaimana mungkin cuitan di twitter tanggal 2 Januari 2021 baru dilaporkan sekarang. Dan seolah-olah berkaitan dengan kasus rasisme yang dilakukan oleh Ambrocius Nababan terhadap orang sama yang terjadi saat ini. Ini kasus ecek-ecek, saya yakin Polri akan kesulitan menemukan unsur pidananya karena istilah 'evolusi otak' itu ambigu dan multi tafsir. Saya yakin kalaupun kasus ini tetap diproses, Tim Pengacara Permadi Arya akan dengan sangat mudah menepisnya.

Untuk kasus kedua yaitu twitt-war antara Tengku Zulkarnaen versus Permadi Arya yang ada narasi Islam arogan, secara obyektif harus saya katakan Permadi Arya masuk garis offside. Tapi bagi saya dengan mempertimbangkan banyak hal, seharusnya kasus seperti tidak perlu harus diselesaikan secara hukum. Ada jalan yang lebih Islami dan bermartabat yaitu dengan tabbayun dan Permadi Arya harus legowo untuk minta maaf kepada umat Islam sambil menjelaskan secara rendah hati dan bijak apa yang sebenarnya dia maksudkan dalam cuitannya tersebut. Bisa jadi kita salah memaknai. Pada intinya dengan rendah hati Permadi Arya harus sowan ke beberapa ormas besar keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU serta tokoh-tokoh agama yang lain.

Permadi Arya adalah manusia biasa. Dia juga bisa salah. Kalau dia dianggap salah, mari kita luruskan dan kita nasehati. Dia salah satu anak bangsa yang gigih berjuang mempertahankan keindonesiaan kita. Kita tidak perlu membenarkan kesalahan yang dia buat, tapi kita juga tidak perlu menghakimi dia di luar batas kepatutan. Jangan pula ada yang mengail di air keruh di kasus ini. Apalagi memanfaatkan kasus ini untuk panjat sosial (Pansos) dan panjat politik (Panpol). Pasti akan saya lawan dengan keras dan pedas.

Pesan khusus saya buat sahabat dan adik saya Permadi Arya. Jangan putus harapan dan semangat, selalu berpikir bijak, berani minta maaf dan hadapi semua dengan kerendahan hati. Konsekuensi dari sebuah perjuangan adalah terbentur, terkadang terluka dan terkadang terjatuh. Tapi hal itu tidak harus membuat kita terpuruk dan tidak bangkit lagi. Karena perjuangan kita masih panjang membentang.

Selama paham kekhilafan yang diusung eks kelompok HTI dan kelompok Ihwanul Muslimin dan kroni-kroninya masih ada di negeri ini, perjuangan kita untuk melawan mereka tidak akan pernah berhenti.
Salam SATU Indonesia
31012021

================================

OPSI ARBITRASE

Oleh: Josef H. Wenas

Saya kira Polri perlu mulai mempertimbangkan opsi arbitrase diluar proses pidana dalam persoalan saling tuduh SARA antara Natalius Pigai-Abu Janda yang telah melibatkan para pihak diluar mereka berdua merasa berkepentingan.

Masalahnya Pigai sendiri punya jejak digital terkait ucapannya yang juga bisa dipersepsikan SARA. Saling lapor pidana semacam ini akan membentuk bola salju yang akan mengundang bermacam "vested interests" untuk ikutan membesarkan gelundungannya. 

Kemarin mulai muncul desakan di media mainstream agar Abu Janda segera ditangkap, bahkan lebih jauh lagi, kasus ini akan jadi alat ukur kinerja Kapolri yang baru. 

Besok, kalau jejak digital tuduhan SARA oleh Pigai terhadap etnis Jawa menggelundung jadi bola salju, gantian akan didesak bahwa kinerja Kapolri ukurannya adalah memproses pidana Natalius Pigai.

Jadi mana yang benar, Kapolri diukur dari bertindak tegas terhadap Abu Janda atau terhadap Natalius Pigai? 

Atau terhadap keduanya? Hati-hati, the devil is in the details, apa yang kelihatannya serupa belum tentu sama dalam suatu penyelidikan pidana. Kerumunan Rizieq Shihab ternyata tidak sama dengan kerumunan Rafi Ahmad, bukan?

Kalau Kapolri baru kita nanti berhasil ditarik kedalam dilema bola salju SARA ini, bukan tidak mungkin sasaran berikutnya adalah atasan langsung Kapolri. 

Yang paling updated adalah buntut "Insiden Km 50 Tol Cikampek." Setelah gagal menarik Presiden Jokowi kedalam pusaran kasus ini, lalu ada pihak yang pikirannya ngawur— padahal tahu sudah pasti ditolak— tetap saja mau membawanya ke ICC di Den Haag. 

Bola salju itu liar, bongkar-bongkaran SARA antara Abu Janda-Pigai, bisa saja membesar dengan ikutan kasus-kasus lain yang serupa di masa lalu. Faktanya, selalu ada pihak yang ingin membesarkannya!

Two wrongs don't make a right.
 -Josef H. Wenas, Yogyakarta 31 Januari 2021
https://wakilrakyat.iniok.com/2021/02/rudi-s-kamri-abu-janda-si-penjaga.html

No comments:

Post a Comment

Tags

3 Denny Siregar (14) Aoky Vera (11) 1 Ade Armando (7) Ninoy N Karundeng (7) 2 Raja Bonar (6) Eko Kuntadhi (6) 4 Rudi S Kamri (5) Andre Vincent W (5) Iyyas Subiakto (4) Perangi Radikalisme (4) Analisis Politik (3) Politik (3) Surat Terbuka (3) BUMN (2) Birgaldo Sinaga (2) Dugaan Rekayasa (2) Jubir Teroris (2) Kejahatan Organisasi (2) Pembohongan Publik (2) Perangi Teroris (2) Tingkah Laku (2) Tirta (2) Tito Gatsu (2) Ajaran Nabi (1) Akhmad Sahal (1) Aneh Bin Nyata (1) Aoki Vera - Live (1) Aroma Koruptor (1) Asi News (1) Azab DKI (1) Balap Mobil (1) Banjir Jakarta (1) Benahi DKI (1) Berita Sidang (1) Biografi Ade Armando (1) Dikormersialisasi (1) Diluar Logika (1) Dosen Universitas (1) Dugaan Cina (1) Fakta Sejarah (1) Fraksi Tv (1) Gratis Masuk Sekolah (1) Gubernur DKI (1) Hafal Alquran (1) Halal Dan Haram (1) Hutang Negara (1) Ideologi Negara (1) Instrospeksi Diri (1) Janji Politikus (1) Jaya Wijaya (1) Joko Widodo (1) Jubir FPI (1) Kadrun Berjatuhan (1) Kebobrokan Pejabat (1) Kebodohan Gubernur (1) Kebohongan Pejabat (1) Ken Setiawan (1) Korupsi (1) Kura-Kura (1) Maling Teriak Maling (1) Masalah Reklamasi (1) Melengserkan Jokowi (1) Membela Negara (1) Mobil Kalengkaleng (1) NKRI Harga Mati (1) Neo PKI (1) Nyai Dewi Tanjung (1) Orde Baru (1) Organisasi Bermasalah (1) Ormas Bermasalah (1) Pancasila (1) Pembongkar Kasus (1) Perangi Korupsi (1) Prilaku DPR RI (1) Proxy War (1) Raja Bonar (1) Rencana Menjatuhkan (1) Revisi UU KPK (1) Sarang Teroris (1) Sejarah Kelam (1) Setia Kecurangan (1) Siapa Raja Bonar (1) Soal Banjir (1) Suara Rakyat (1) Syarat Jadi Presiden (1) Terlalu Go3blog (1) Tidak Berlangsungkawa (1) Tolak Wisata Halal (1) Tunggangi Papua (1) Umat Islam (1) Vaksin (1) Wakil Rakyat (1) Wanita Jepang (1) William (1) Wisata Netral (1)